Minggu, 14 November 2010

Runtuhnya Moralitas Bangsa Ditengah Gencarnya Arus Globalisasi

RUNTUHNYA MORALITAS BANGSA DITENGAH GENCARNYA ARUS GLOBALISASI

PENDAHULUAN
Globalisasi yang di di tandai dengan pesatnya teknologi komunikasi dan transportasi, telah membuat dunia menjadi semakin kecil dan semakin terkoneksi, yang mengakibatkan meningkatnya interaksi antar individu, kelompok dari berbagai penjuru dunia. Dengan demikian interaksi yang telahberlangsung tidak terlepas dari pertukaran berbagai informasi antara individu, kelompok yang melintasi batas Negara, sehingga tidak menutup kemungkinan perubahan di beberapa  aspek kehidupan terjadi. Perkembangan barang-barang seperti telefon, televise, dan internet, menunjukkan bahwa bahwa komunikasi global terjadi sedemikian cepat. Sementara melalui massa semacam turisme memungkinkan kita mesarakan hal dari budaya yang berbeda.
Dunia barat yang begitu gencar mendorong arus Globalisasi yang di tandai dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi. Mempunyai pengaruh besar terhadap budaya local karena globalisasi tidak hanya berbicara mengenai interaksi dalam bidang ekonomi yang dilakukan dengan cara perdangan bebas akan tetapi globalisisa juga merupakan persebaran nilai yang merupakan bagian dari budaya.[1] Budaya barat yang identik dengan kebabasan serta budaya yang lainnya yang tidak sesuai dengan budaya bangsa indonesia menyebabkan terjadinya persaingan  budaya, antara antara budaya local (indonesia) dan budaya barat.
Perseteruan atau persaingan ini akan selalu di tandai kekalahan dan kemenangan, zero sum game. Dalam hal ini bisa kita prediksi satu kebudyaan (lokal) yang tidak di dudukung oleh alat sebagai sebuah kekuatan dengan kebudayaan (barat) yang didukung oleh berbagai sarana atau alat sebagai kekuatan,  maka adalah sesuatu yang tentu jelas bahwa kebudayaan local akan mengalami kekalahan. Badaya local sudah tidak mampu lagi membendung kebudaya barat yang disertai dengan adanya media masa sebagai alat dan kekuatan  finansial untuk membangun/merubah karangka pemikiran masyakat indonesia yang akhirnya juga berimplikasi pada sikap, prilaku. Artinya masyarakat akan selalu masyakat akan selalu berupaya meniru, dan mendapatkan cirri-ciri,[2] karakteristik yang dimiliki oleh orang barat. Dengan alasan Hak Asasi Manusia, banyak mucul gaya hidup dan budaya ala barat yang jauh menyimpang dari budaya ketimuran. Salah satunya adalah munculnya hedonisme. Hidonisme merupakan buah hasil yang di telorkan oleh budaya liberal. Yang beranggapan bahwa tujuan hidup untuk mencarai kesenangan dan kenikmatan materi . asumsi ini di dassarkan pada sebuah pandangan bahwa hidup hanya terjadi satu kali oleh karena itu pemanfaatan atas hidup ini perlu dimaksimalkan.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pengaruh globalisasi budaya Barat terhadap moralitas bangsa  yang hari mengalami kekalahan dalam perseteruan dalam ranah-ranah dunia global ?
PEMBAHASAN
Semakin hari dunia terasa semakin sempit saja. 2Sempit bukan dalam artian geografis tapi sempit dari segi komunikasi dan interaksi. Lihatlah ketika orang-orang mulai berkomunikasi antar negara. Kini manusia tak perlu pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk dapat berkomunikasi, bahkan manusia tak perlu beranjak dari tempat duduknya. Kemajuan teknologi telah menyebabkan terjadinya bentuk komunikasi dengan mudah misalnya dengan telepon, teevisi, internet dan radio.
Kemajuan teknologi di bidang informasi ini tentunya mendatangkan banyak efek bawaan. Pertukaran informasi yang berlangsung dengan sangat cepat dan mudah telah membawa kita pada suatu kubudayaan baru yaitu kebudayaan liberal yang di diwadahi oleh globalisasi. Seperti halnya hidonisme. Hedonisme sebagai nilai baru yang –bukan sekedar berasal dari Barat, tepatnya berasal dari gaya hidup masyarakat industri modern yang lebih berwatak liberal. Adalah sebuah produk kebudayaan yang kini merambah ke dalam kehidupan masyarakat dunia ketiga, yang secara struktural masih sangat labil di satu sisi dan di sisi lain secara kultural masih cenderung konservatif (teguh memegang nilai-nilai tradisi lokal). Hedonisme bagi masyarakat industri modern adalah sebuah keniscayaan, namun bagi masyarakat tradisional budaya ini merupakan ancaman yang ditafsirkan akan selalu membawa petaka.
Teori globalisasi kultur oleh George Ritzer dalam suatu kasus, [3]kunci perbedaanya adalah apakah seseorang melihat meningkatnya homogenitas atu heterogenitas pada satu titik ektrim  globalisasi kultur telah dijadikan  sebuah medan yang di persiapkan oleh transansional untuk membentuk ruang dan waktu percumbuhan kultur local global dan local yang pada akhirnya mengarah pada pencakokan kultur (hiterogentas). Bertambahnya pengaruh internasional (transanasional ), terasosiasi/tersatukan akan menciptakan homogenetas kultur. Karena kuatnya dominasi Negara-negara pusat kapitalisme global pada persoalan kultur,berimbas pada semakin menghilangnya karakter local. Globalisasi yang membentuk ruang percumbuhan antara kultur global dan kultur local telah menjadikan proses  tarik menarik   antara pencakokan kultur atau imperialisme kultur. dorongan yang semakin kuat oleh kekuatan internasional dan di bantu dengan semakin cepatnya informasi media telah meletakkan imperialisme kultur menjadi lebih dominan.sehingga jangan heran apabila realitas homogenitas menjadi lebih dominan daripada hiterogenitas. Adalah sebuah barang tentu jika hari ini bangsa kita juga tertular oleh penyakit hidonisme yang merupakan hasil pertautan dalam dunia global, antara nilai local dan nilai yang di bawa dari barat melalui globalisasi. Bagi bangsa barat budaya hidonisme merupakan suatu kewajaran bagi manusia karena setiap manusia pasti selalu mendambakan kesenangan dan yang sering menjadi dasar bagi pandangan ini adalah (HAM).
Pada dasarnya hidonisme bagi merupakan budaya barat yang ditantai dengan kebabasan dalam rangka untuk mencapai kebahagiaan/happiness, seperti halnya pergaulan bebas, berpakain bebas, clubbing yang sering ditandai dengan obat-obatan terlarang dan minum-minun keras dan inplikasinya sangat besar terhadap moralitas bangsa, dan begiru juga dengan valentinis day yang merupakan sebuah kebohongan belaka dari hari kasih sayang karna momen ini selalu di warnai oleh dekonstruksi keperawanan,( kesucian bukanlah sesuatu yang utama ) . beberapa catata dibawah ini yang menimpa remaja kita.
Ditengah berita siswa-siswi berprestasi dalam ajang penelitian, olimpiade sains, seni dan olahraga, anak muda Indonesia saat ini terancam dalam masa chaos. Jutaan remaja kita menjadi korban perusahaan nikotin-rokok. Lebih dari 2 juta remaja Indonesia ketagihan Narkoba (BNN 2004) dan lebih 8000 remaja terdiagnosis pengidap AIDS (Depkes 2008). Disamping itu, moral anak-anak dalam hubungan seksual telah memasuki tahap yang mengawatirkan. Lebih dari 60% remaja SMP dan SMA Indonesia, sudah tidak perawan lagi. Perilaku hidup bebas telah meruntuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat kita.
Berdasarkan hasil survei Komnas Perlindungan Anak bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada 2007 diperoleh pengakuan remaja bahwa : Sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks. Sebanyak 62,7% anak SMP mengaku sudah tidak perawan. Sebanyak 21,2% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi. Dari 2 juta wanita Indonesia yang pernah melakukan aborsi, 1 juta adalah remaja perempuan. Sebanyak 97% pelajar SMP dan SMA mengaku suka menonton film porno.
Masih banyak kasus yang lainnya yang menimpa anak bangsa kita sebagai akibat dari karangka berfikir liberal yang menjungjung tinggi HAM yang pada akhirnya terjebak pada suatu pandangan hidonis.
Liberalisme merupakan nilai-nilai  yang menekankan kebebasan bagi setiap individu dengan mendasarkan diri  pada HAM.  dalam masyarakat barat adalah sebuah kewajaran bagi bangsa barat. Mengingat itu adalah sebuah nilai/kaidah yang menjadi kesepakatan masyarakat barat yang dijadikan pegangan dalam menyelesaikan berbagai persoalan-persoalan dalam hidup bermasyarakat.
Nilai-nilai/kaidah-kaidah  merupakan bagian dari kebudayaan yang oleh selo sumarjan dan sulaiman sumardi merupakan hasil refleksi dari rasa.[4] Rasa yang meliputi jiwa manusia,mewujudkan kaidah-kaidah dan nilai-nilai social yang perlu untuk mengtur masalah-masalah kemasyarakatan . Didalamnya  termasuk misalnya saja agama, ideology, dll. Karena kaitannya dengan nilai bangsa indonesiapun juga punya nilai tersendiri dan tentunya berbeada dengan nilai-nilai barat yang lebih menekankan pada kebebasan. [5]Bangsa indonesia yang dikenal dengan adat ketimuran yang begitu santun dan taat pada aturan , dan masih sangat menekankan pada nilai-nilai agama dalam menjalani kehidupan tentu sangat bertengtangan dengan barat yang dikenal dengan liberalismenya, skularisme, hidonisme, dan individualistiks
Kesimpulan
Globalisaisi di gembor-gemborkan oleh Negara-negara maju yaitu barat tidak lain merupakn sebuah imperialisme nilai terhadap nilai local yang pada akhirnya berimplikasi pada hilangnya nilai-nilai ketimuran yang sebelumnya diwarnai dengan nilai-nilai religiusitas dan pada gilirannya merosotnya moralitas bangsa. Perseteruan budaya dalam ranah-ranah global yang akhirnya berimplikasi pada pencakokan terhadap budaya local atau menciptakan homogenitas budaya pada akirnya budaya barat yang di tandai dengan kebebasan telah mendapatkan legitimasi dari genarasi bangsa untuk di konsumsi dan  dibiarkan mewarnai bangsa kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar